Selasa, 30 Juni 2015

Resensi Film "Potret Indonesiaku"

Identitas Film

Judul      : Potret Indonesiaku


Penulis   : 1. Dimas Ichfianto
                 2. Lidya Clarisha
Editor     : Erick Carlo Feyzard Purba
Pemeran : 1. M.Azray Syafaat berperan sebagai Ali
                 2. Reza Hidayat Alfan berperan sebagai Alvi
                 3. Fauzan Barus berperan sebagai Jafar
                 4. Lidya Clarisha berperan sebagai Arin
                 5. Dinda Swari berperan sebagai Indah
                 6. Salwa Fitria berperan sebagai Suci
                 7. Rizaldi Akbar berperan sebagai Doni
                 8. Arif Sanggunata berperan sebagai Aldi
                 9. Erick Carlo Feyzard Purba berperan sebagai Pak Feri
               10. Dimas Ichfianto berperan sebagai Bapak Kepala Desa
Pemeran Pembantu : 1. Anggoro Riyadi Putra
                                  2. Fiqie Handana
                                  3. Desi Kurniawati
Negara    : Indonesia
Bahasa    : Bahasa Indonesia
Sinopsis :  
          Film ini menceritakan tentang kisah anak desa dan anak kota yang menyalurkan bakat mereka melalui perlombaan musik yang diselenggarakan oleh Pak Feri selaku event organizer sekaligus juri dalam perlombaan tersebut namun ada hal yang mengganggu pada saat perlombaaan berlangsung .  Perwakilan anak desa yang mengikuti perlombaan tersebut adalah Arin dan Indah yang memainkan  musik nusantara dengan menggunakan alat seruling , sedangkan Suci dan Jafar  akan berpenampilan duet dengan menyanyikan lagu khas daerah Sumatra Utara yaitu Butet.Perwakilan anak kota yang mengikuti perlombaan yaitu Ali dan Alvi yang membawakan lagu  barat beraliran metal . Dalam perlombaan tersebut terdapat praktik KKN dimana pihak yang terkait dalam praktik KKN tersebut adalah Pak Feri selaku event organizer sekaligus juri dengan perserta perwakilan dari anak kota yaitu Ali dan Alvi . Praktik ini terjadi ketika Ali dan Alvi memberikan uang atau dalam kata lain “menyogok”Pak Feri agar mereka memenangkan lomba dan lanjut ke tahap go internasional.Akan tetapi aksi KKN ini diketahui oleh Aldi dan Doni .Ali dan Doni tanpa berpikir panjang langsung merekam kejadian tersebut dan memberikan kepada ketua Panitia perlombaan musik tersebut.Saat pengumuman pemenang perlombaan berlangsung,Pak Feri mengumumkan pemenang perlombaan musik kali ini dan berhasil lanjut ke tahap berikutnya adalah Ali dan Alvi perwakilan anak kota yang membawakan lagu aliran metal.Namun setelah diumumkan sang juara ,seketika itu  ketua Panitia memasuki ruangan dan memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi  bahwa Pak Feri telah disogok oleh kedua pihak yakni Ali dan Alvi agar mereka berdua menjadi juaranya.Terdapat bukti jelas rekaman video kejadian tersebut yang diperlihatkan ketua panitia.Awalnya Pak Feri dan sang juara tidak mengakui bahwa mereka yang melakukan hal tersebut dan berpura-pura tidak tahu.Namun situasi dan kondisi ditempat menjadi ricuh seketika.Akhirnya pak Feri dan Alvi mengakui kesalahan mereka telah melakukan KKN yang sangat jelas melanggar aturan yang ada. Akibat  KKN tersebut sangat merugikan karena telah mengambil hak orang lain , karena yang seharusnya memenangkan perlombaan adalah permainan seruling yang dimainkan oleh Arin dan Indah.Selanjutnya juri mengumumkan pemenang yang sebenarnya bahwa yang memenangkan perlombaan musik kali ini adalah perwakilan anak desa yaitu Arin dan Indah.

 Kelebihan Film :
1. Lokasi shooting yang menarik
2. Editing film yang baik
3. Pemeran terlihat natural dalam memainkan setiap peran
4. Scene komedi yang diselipkan membuat penonton tidak bosan
5. Permasalahan yang disajikan menggambarkan permasalahan Indonesia yakni KKN 
6. Terdapat pesan yang berguna

Kekurangan Film :
1. Angel View pada pengambilan gambar yang kurang baik 
2. Lipsync yang masih kurang pas
3. Terdapat alur cerita yang masih kurang tepat 

Kamis, 04 Juni 2015

Demokrasi, Geostrategis Indonesia, Sistem Pemerintahan Soeharto, SBY, dan Jokowi, Ketahanan Nasional



1.    Pengertian Demorasi
Apa itu demokrasi ? sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya yakni kekuasaan yang berada ditangan rakyat. Demokrasi berasal bahasa yunani Demos dan Kratos, demos memiliki arti “rakyat” dan kratos memiliki arti “kekuasaan” jadi secara bahasa demokrasi dapat diartikan sebagai suatu sistem pemerintahan yang dianut oleh suatu negara yang pada prosesnya melibatkan rakyat dimana seluruh warga dari negara yang menganut demokrasi memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan.
a.    Demokrasi yang dianut Indonesia
Indonesia merupakan negara demokrasi seperti yang tertera pada UUD 1945, namun tidak semua unsur demokrasi dapat diterapkan di Indonesia. Oleh karena itu Indonesia menerapkan Demokrasi Pancasila yakni demokrasi yang unsur-unsurnya telah disesuaikan dengan budaya warga negara Indonesia.
b.    Teori & Implementasi Demokrasi Pancasila di Indonesia
Apabila kita berbicara soal sistem maka setiap suatu sistem yang dibuat oleh manusia tidak ada yang sempurna tak terkecuali sistem demokrasi yang dianut oleh  suatu negara. Seperti yang sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya Indonesia menganut Demokrasi Pancasila sesuai dengan yang tercantum pada konstitusi indonesia UUD 1945. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang pelaksanaannya mengutamakan asas musyawarah mufakat demi tercapainya kepentingan bersama. Namun.....!!! pada kenyataannya masih banyak penyelewengan yang terjadi terhadap demokrasi pancasila yang kita anut mulai dari kasus kecil hingga besar. Untuk kasus kecil bisa kita lihat bahwa budaya demokrasi masyarakat indonesia masih dipenuhi bumbu-bumbu KKN yang lebih mementingkan kepentingan pribadi semata dan ini terjadi dibanyak bidang dan penulis yakin pembaca dapat memberikan contohnya sendiri berdasarkan pengalaman pembaca. Untuk kasus yang besar bisa dilihat ketika adanya kabinet parlementer yang dipimpin oleh menteri Syahrir, selain itu terjadi penggunaan konstitusi Indonesia Serikat yang notabene prinsip yang digunakan adalah suara masyarakat tentunya hal ini berbeda dengan pengertian demokrasi pancasila yang lebih menekankan musyawarah mufakat. Dari contoh diatas dapat dilihat Indonesia menganut demokrasi pancasila dan telah melaksanakannya namun masih terdapat beberapa penyelewengan yang menyebabkan demokrasi pancasila tidak dapat dijalankan sepenuhnya. Hal inilah yang kemudian dapat menjadi bumerang bagi pemerintah dimana rakyat bisa saja mulai tidak percaya dengan mereka dana apabila berlanjut dapat menimbulkan krisis nasional.
c.    Apakah demokrasi pancasila sudah ideal bagi Indonesia ?
Seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang unsur-unsurnya telah mengalami penyesuaian dengan budaya-budaya yang terdapat di Indonesia tentunya Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang ideal bagi negara indonesia Namun...!!! pendapat ideal atau tidak setiap orang memiliki pandangannya masing-masing termasuk pembaca sekalian. Jika kita berbicara lebih jauh soal idealnya suatu sistem demokrasi ada dua aspek yang dapat menjadi tolak ukur yaitu aspek prosedural dan substansial. Aspek prosedural merupakan prosedur-prosedur yang harus dipenuhi agar demokrasi diakui seperti adanya partai politik, adanya pemilu dll sedangkan aspek substansial artinya demokrasi bukan hanya selesai dengan terpenuhinya prosedur-prosedur yang ada tetapi juga harus menyentuh substansi dari prosedur itu sendiri misalnya kebebasan membuat parpol, adanya lembaga KPU, terlaksananya pemilu , dll. Di Indonesia sendiri kedua aspek tersebut sudah dapat kita lihat namun masih memiliki catan-catatan buruk terlebih lagi pada aspek substansi yang memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak yang terkait.

2.    Apa dan bagaimana geostrategi di Indonesia ?
Geostrategi berasal dari kata geo yang artinya “Bumi” dan strategi yang artinya suatu usaha yang dilakukan dengan mengerahkan segalam sumber daya. Bagi bangsa Indonesia geostrategi diartikan sebagai metose untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana yang tercantum pada UUD 1945, melalu proses pembangunan nasional. Oleh karena itu geostrategi Indonesia sebagai salah satu cara atau metode dalam memanfaatkan segenap konstelasi geografi negara indonesia demi tercapainya tujuan seluruh bangsa dengan berdasarkan asas kemanusian dan keadilan sosial.
a.         Perkembangan Konsep Geostrategi Indonesia
Konsep geostrategi Indonesia pertama kali dilontarkan oleh Bung Karno pada tanggal 10 Juni 1948 di Kotaraja. Namun sayangnya gagasan ini kurang dikembangkan oleh para pejabat bawahan, karena seperti yang kita ketahui wilayah NKRI diduduki oleh Belanda pada akhir Desember 1948, sehingga kurang berpengaruh. Dan akhirnya, setelah pengakuan kemerdekaan 1950 garis pembangunan politik berupa “ Nation and character and building “ yang merupakan wujud tidak langsung dari geostrategi Indonesia yakni sebagai pembangunan jiwa bangsa.
b. Tujuan Geostrategi Indonesia
Berbagai konsep dasar serta pengembangan geostrategi Indonesia pada dasarnya bertujuan untuk:
1.        Menyusun dan mengembangkan potensi kekuatan nasional baik yang berbasis pada aspek ideologi, politik, sosial budaya, bahkan aspek-aspek alamiah. Hal ini untuk upaya kelestarian dan eksistansi hidup Negara dan Bangsa dalam mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. [1]
2.        Menunjang tugas pokok pemerintah Indonesia dalam :
a.       Menegakkan hukum dan ketertiban (law and order).
b.      Terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran (welfare and prosperity).
c.       Terselenggaranya pertahanan dan keamanan (defense and prosperity).
d.      Terwujudnya keadilan hukum & keadilan sosial ( yuridical justice & social justice).
e.       Tersedianya kesempatan rakyat untuk mengaktualisasikan diri (freedom of the people).

3.    Pola Manajemen Pemerintah Dalam Pembangunan Nasional
Pembangunan nasional adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia secara berkelanjutan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan segala sumber daya yang ada serta memperhatikan tantangan perkembangan global, Proses pembanguan nasional merupakan suatu proses yang melibatkan semua unsur-unsur yang terdapat pada suatu negara namun pemerintah memiliki peran yang penting dalam mengendalikan ke arah mana pembangunan nasional akan dituju.
Politik dan strategi nasional dalam aturan ketatanegaraan selama ini dituangkan dalam bentuk GBHN yang ditetapkan oleh MPR. Selanjutnya, pelaksanaannya dilaksanakan oleh presiden/ Mandataris MPR. GBHN pada dasarnya merupakan haluan negara tentang pembangunan nasional yang ditetapkan setiap lima tahun dengan mempertimbangkan perkembangan dan tingkat kemajuan kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia. Pelaksanaannya dituangkan dalam pokok-pokok kebijaksanaan pelaksanaan pembangunan nasional yang ditentukan oleh presiden sebagai mandataris MPR dengan mendengarkan dan memperhatikan sungguh-sungguh pendapat dari lembaga tinggi negara lainnya, terutama DPR. Kebijaksanaan yang telah mendapat persetujuan dari lembaga tinggi negara, khususnya DPR, merupakan politik pemerintah. Jadi, politik pemerintah tidak menyalahi jiwa demokrasi dan tetap berpedoman pada ketetapan MPR.
Politik pembangunan sebagai pedoman dalam pembangunan nasional memerlukan keterpaduan tata nilai, struktur, dan proses. Keterpaduan tersebut merupakan himpunan usaha untuk mencapai efisiensi, daya guna, dan hasil guna sebesar mungkin dalam penggunaan sumber dana dan daya nasional guna mewujudkan tujuan nasional. Karena itu, kita memerlukan sistem manajemen nasional. Sistem manajemen nasional berfungsi memadukan penyelenggaraan siklus kegiatan perumusan, pelaksanaan, dan pengendalian pelaksanaan kebijaksanaan. Sistem manajemen nasional memadukan seluruh upaya manajerial yang melibatkan pengambilan keputusan berkewenangan dalam rangka penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan ketertiban sosial, politik, dan administrasi.
a.         Makna dari Pembangunan Nasional
Tujuan pembangunan nasional itu sendiri adalah sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahreraan seluruh bangsa Indonesia. Dan pelaksanaannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan ranggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Maksudnya adalah setiap warga negara Indonesia harus ikut serta dan berperan dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing.
Keikursertaan setiap warga negara dalam pembangunan nasional dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengikuti program wajib belajar, membayar pajak, melestarikan lingkungan hidup, mentaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, menjaga ketertiban dan keamanan, dan sebagainya.
Pembangunan nasional mencakup hal-hal yang bersifat lahiriah maupun batiniah yang selaras, serasi, dan seimbang. Itulah sebabnya pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang seutuhnya, yakni sejahtera lahir dan batin.
Pembangunan yang bersifat lahiriah dilaksanakan untuk memenuhikebutuhan hajat hidup fisik manusia, misalnya sandang, pangan, perumahan, pabrik, gedung perkantoran, pengairan, sarana dan prasarana transportasi dan olahraga, dan sebagainya. Sedangkan contoh pembangunan yang bersifat batiniah adalah pembangunan sarana dan prasarana ibadah, pendidikan, rekreasi, hiburan, kesehatan, dan sebagainya. Untuk mengetahui bagaimana proses pembangunan nasional itu berlangsung, kita harus memahami manajemen nasional yang te-rangkai dalam sebuah sistem.

b.        Manajemen Nasional
Manajemen nasional pada dasarnya merupakan sebuah sistem, sehingga lebih tepat jika kita menggunakan istilah “sistem manajemen nasional”. Layaknya sebuah sistem, pembahasannya bersifat komprehensif-strategis-integral. Orientasinya adalah pada penemuan dan pengenalan (identifikasi) faktor-faktor strategis secara menyeluruh dan terpadu. Dengan demikian sistem manajemen nasional dapat menjadi kerangka dasar, landasan, pedoman dan sarana bagi perkembangan proses pembelajaran {learning process) maupun penyempurnaan fungsi penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat umum maupun pembangunan.
Pada dasarnya sistem manajemen nasional merupakan perpaduan antara tata nilai, struktur, dan proses untuk mencapai kehematan, daya guna, dan hasil guna sebesar mungkin dalam menggunakan sumber dana dan daya nasional demi mencapai tujuan nasional. Proses penyelenggaraan yang serasi dan terpadu meliputi siklus kegiatan perumusan kebijaksanaan (policy formulation), pelaksanaan kebijaksanaan (policy implementation), dan penilaian hasil kebijaksanaan (policy evaluation) terhadap berbagai kebijaksanaan nasional.
Secara lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa sebuah sistem sekurang-kurangnya harus dapat menjelaskan unsur, struktur, proses, rungsi serta lingkungan yang mempengaruhinya.
1.        Unsur,Struktur, dan Proses Manajemen Nasional
 Secara sederhana, unsur-unsur utama sistem manajemen nasional dalam bidang ketatanegaraan meliputi:
     a) Negara sebagai “organisasi kekuasaan” mempunyai hak dan peranan atas pemilikan, pengaturan,    dan pelayanan yang diperlukan dalam mewujudkan cita-cita bangsa, termasuk usaha produksi dan distribusi barang dan jasa bagi kepentingan masyarakat umum (public goods and services).
    b.)  Bangsa Indonesia sebagai unsur “Pemilik Negara” berperan dalam menentukan sistem nilai dan arah/haluan/kebijaksanaan negara yang digunakan sebagai landasan dan pedoman bagi penyelenggaraan fungsi-fungsi negara.
    c.)  Pemerintah sebagai unsur “Manajer atau Penguasa” berperan dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan umum dan pembangunan ke arah cita-cita bangsa dan kelangsungan serta pertumbuhan negara.
     d.)  Masyarakat adalah unsur “Penunjang dan Pemakai” yang berperan sebagai kontributor, penerima, dan konsumen bagi berbagai hasil kegiatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan tersebut di atas.
Sejalan dengan pokok pikiran di atas, unsur-unsur utama SISMENNAS tersebut secara struktural tersusun atas empat tatanan (setting). Yang dilihat dari dalam ke luar adalah Tata Laksana Pemerintahan (TLP), Tata Administrasi Negara (TAN), Tata Politik Nasional (TPN), dan Tata Kehidupan Masyarakat (TKM). Tata laksana dan tata administrasi pemerintahan merupakan tatanan dalam (inner setting) dari sistem manajemen national (SISMENNAS).
Dilihat dari sisi prosesnya, SISMENNAS berpusat pada satu rangkaian pengambilan keputusan yang berkewenangan, yang terjadi pada tatanan dalam TAN dan TLR. Kata kewenangan di sini mempunyai konotasi bahwa keputusan-keputusan yang diambil adalah berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh si pemutus berdasarkan hukum. Karena itu, keputusan-keputusan itu bersifat mengikat dan dapat dipaksakan (compulsory) dengan sanksi-sanksi atau dengan insentif dan disinsentif tertentu yang ditujukan kepada seluruh anggota masyarakat. Karena itu, tatanan dalam (TAN+TLP) dapat disebut Tatanan Pengambilan Berkewenangan (TPKB).
Penyelenggaraan TPKB memerlukan proses Arus Masuk yang dimulai dari TKM lewat TPN. Aspirasi dari TKM dapat berasal dari rakyat, baik secara individual maupun melalui organisasi kemasyarakatan, partai politik, kelompok penekan, organisasi kepentingan, dan pers. Masukan ini berintikan kepentingan Rakyat. Rangkaian kegiatan dalam TPKB menghasilkan berbagai keputusan yang terhimpun dalam proses Arus Keluar yang selanjutnya disalurkan ke TPN dan TKM. Arus Keluar ini pada dasarnya merupakan tanggapan pemerintah terhadap berbagai tuntutan, tantangan, serta peluang dari lingkungannya. Keluaran tersebut pada umumnya berupa berbaeai kebiiaksanaan yang lazimnya dituangkan ke dalam bentuk-bentuk perundangan/ peraturan yang sesuai dengan permasalahan dan klasifikasi kebijaksanaan serta instansi yang mengeluarkannya.
Sementara itu, terdapat suatu proses umpan balik sebagai bagian dari siklus kegiatan fungsional SISMENNAS yang menghubungkan Arus Keluar dengan Arus Masuk maupun dengan Tatanan Pengambilan Keputusan Berkewenganan (TPKB). Dengan demikian secara prosedural SISMENNAS merupakan satu siklus yang berkesinambungan.
2.        Fungsi Sistem Manajemen Nasional
Fungsi di sini dikaitkan dengan pengaruh, efek atau akibat dari terselenggaranya kegiatan terpadu sebuah organisasi atau sistem dalam rangka pembenahan (adaptasi) dan penyesuaian (adjustment) dengan tata lingkungannya untuk memelihara kelangsungan hidup dan mencapai tujuan-tujuannya. Dalam proses melaraskan diri serta pengaruh-mempengaruhi dengan lingkungan itu, SISMENNAS memiliki fungsi pokok: “pemasyarakatan politik.” Hal ini berarti bahwa segenap usaha dan kegiatan SISMENNAS diarahkan pada penjaminan hak dan penertiban kewajiban rakyat. Hak rakyat pada pokoknya adalah terpenuhinya berbagai kepentingan. Sedangkan kewajiban rakyat pada pokoknya adalah keikutsertaan dan tanggung jawab atas terbentuknya situasi dan kondisi kewarganegaraan yang baik, di mana setiap warga negara Indonesia terdorong untuk setia kepada negara dan taat kepada falsafah serta peraturan dan perundangannya.
Dalam proses Arus Masuk terdapat dua fungsi, yaitu pengenalan kepentingan dan pemilihan kepemimpinan. Fungsi pengenalan kepentingan adalah untuk menemukan dan mengenali serta merumuskan berbagai permasalahan dan kebutuhan rakyat yang terdapat pada struktur Tata Kehidupan Masyarakat (TKM). Di dalam Tata Politik Nasional (TPN) permasalahan dan kebutuhan tersebut diolah dan dijabarkan sebagai kepentingan nasional.
Pemilihan kepemimpinan berfungsi memberikan masukan tentang tersedianya orang-orang yang berkualitas untuk menempati berbagai kedudukan dan jabatan tertentu dan menyelenggarakan berbagai tugas dan pekerjaan dalam rangka TPKB.
Pada Tatanan Pengambilan Keputusan Berkewenangan (TPKB), yang merupakan inti SISMENNAS, fungsi-fungsi yang mentransformasikan kepentingan kemasyarakatan maupun kebangsaan yang bersifat politis terselenggara ke dalam bentuk-bentuk administratif untuk memudahkan pelaksanaannya serta meningkatkan daya guna dan hasil gunanya. Fungsi-fungsi tersebut adalah

  1.  Perencanaan sebagai rintisan dan persiapan sebelum pelaksanaan, sesuai kebijaksanaan yang dirumuskan. 
  2.   Pengendalian sebagai pengarahan, bimbingan, dan koordinasi selama pelaksanaan.
  3.  Penilaian untuk membandingkan hasil pelaksanaan dengan keinginan setelah pelaksanaan selesai.

Ketiga fungsi TPKB tersebut merupakan proses pengelolaan lebih lanjut secara strategis, manajerial dan operasional terhadap berbagai keputusan kebijaksanaan. Keputusan-keputusan tersebut merupakan hasil dari fungsi-fungsi yang dikemukakan sebelumnya, yaitu fungsi pengenalan kepentingan dan fungsi pemilihan kepemimpinan yang ditransformasikan dari masukan politik menjadi tindakan administratif.
Pada aspek arus keluar, SISMENNAS diharapkan menghasilkan:
a)    Aturan, norma, patokan, pedoman, dan Iain-lain, yang secara singkat dapat disebut kebijaksanaan umum (public policies).
b)   Penyelenggaraan, penerapan, penegakan, maupun pelaksanaan berbagai kebijaksanaan nasional yang lazimnya dijabarkan dalam sejumlah program dan kegiatan.
c)    Penyelesaian segala macam perselisihan, pelanggaran, dan penyelewengan yang timbul sehubungan dengan kebijaksanaan umum serta program tersebut dalam rangka pemeliharaan tertib hukum.

4. Pemerintahan Presiden Soeharto,SBY, dan Jokowi

1. Pemerintahan pada masa Soeharto
a.      Politik
Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.
Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.
Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol).
Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.

b.      Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru
·         Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000.
·         Sukses transmigrasi.
·         Sukses KB.
·         Sukses memerangi buta huruf.
·         Sukses swasembada pangan.
·         Pengangguran minimum.
·         Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
·         Sukses Gerakan Wajib Belajar.
·         Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh.
·         Sukses keamanan dalam negeri.
·         Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia.
c.       Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru
·         Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme.
·         Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat.
·         Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua.
·         Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya.
·          Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin).
·          Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa).
·          Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan.
·          Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel.
·          Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius".
·         Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya).
·        Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak Senang, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang efektif negara pasti hancur.
·        Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah.

d.      Krisis finansial Asia
Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

2.   Demokrasi pada masa Reformasi (1998 sampai dengan sekarang)
Era Pasca Soeharto atau Era Reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan wakil presiden BJ Habibie.
     Latar belakang
Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidak puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

2. Pemerintahan SBY

Hampir semua lembaga survei  menyimpulkan bahwa kinerja pemerintahan SBY-Boediono  dan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II tidak memuaskan,turun, mandek, buruk dan bahkan gagal. Kesimpulan tersebut dirilis berbagai media dari hasil survei Indonesia Research Centre (IRC), Indonesia Network Election Survey (INES),  Fokus Survei Indonesia (FSI), Lembaga Survei Nasional (LSN), Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan masih banyak lagi.
Sementara menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, justru kinerja pemerintah telah melakukan lima pencapaian keberhasilan di bidang ekonomi.  Lima keberhasilan tersebut adalah pertama soal pemberantasan kemiskinan, menekan angka pengangguran, pendapatan per kapita naik melesat, pertumbuhan ekonomi yang bagus, dan investasi meningkat.
Pidato Presiden SBY tanggal 16 Agustus 2013 di Gedung DPR-MPR juga menyampaikan berbagai kemajuan dalam perjalanan bangsa selama 15 tahun reformasi. Demokrasi yang semakin tumbuh dan mekar, semangat kebangsaan yang mengedapankan hukum sebagai panglima. Semakin terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat. Perlindungan dan akses bantuan hukum bagi masyarakat semakin mudah.
Keberhasilan pemerintah juga meliputi indeks pembangunan manusia Indonesia telah meningkat secara signifikan, terlihat pada angka partisipasi pendidikan menengah dan tinggi semakin baik, angka harapan hidup terus meningkat dan tingkat kematian bayi dan ibu melahirkan terus menurun.Begitu juga dengan pendapatan per kapita semakin meningkat, sekaligus mejelaskan semakin membesarnya kelas menengah di Indonesia.
Ada dua  kubu yang memiliki perspektif  berbeda, dalam menilai fakta-fakta sosial dan kondisi yang sesungguhnya terjadi di tengah realitas kehidupan kita sebagai bangsa.  Bahkan bisa jadi masih banyak sudut pandang dari berbagai kelompok masyarakat lain  yang belum terungkap ke ruang publik.
Lembaga-lembaga survei dengan berbagai paradigma dan metode risetnya, merupakan potret kondisi lapangan yang sesungguhnya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Begitu juga dengan gambaran keberhasilan kinerja pemerintah SBY, sudah pasti base on data.
Ada tiga paradigma keilmuan yang digunakan dalam metode penelitian, yakni paradigma positivistik –obyektif, paradigma konstruktif-kualitatif dan paradigama kritis. Namun demikian, meski ketiga paradigma keilmuan tersebut semuanya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tidak ada satupun dari paradigama- metode keilmuan dan penelitian itu yang bisa mengungkap kebenaran dan realitas sosial secara mutlak. Bahkan jika ketiganya digunakan sekaligus dalam sebuah penelitian.
Bagaimanapun akuratnya lembaga survei memotret kondisi sosial politik dan realitas kehidupan rakyat, tetap tidak akan mampu mengungkap seluruh fakta-fakta dan kondisi keseluruhan rakyat Indonesia. Contoh kecil, kepuasan pemudik yang menggunakan jasa angkutan massal kerete api, pelayanan puskesmas di daerah-daerah bahkan di lingkungan pemukiman padat kota-kota besar di Indonesia. pendidikan dasar dan menengah semakin terjamin, kehidupan guru dan dosen yang semakin sejahtera dengan program sertifikasi. Sangat jarang diungkap ke ranah  publik.
Bahkan menurut hasil survei yang dirilis oleh The Neilsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions awal Mei 2013, Indonesia terbukti menjadi salah satu negara target paling menggiurkan di pentas bisnis dunia. Indonesia berada di urutan teratas dalam daftar sepuluh negara dengan tingkat optimisme ekonomi tertinggi di dunia.
Dengan indeks kepercayaan konsumen mencapai 122 poin, Indonesia mengalahkan rata-rata negara Asia yang indeksnya mencapai 103 poin dan bahkan berada jauh di atas rata-rata dunia yang hanya sebesar 93 poin. Menurut lembaga riset tersebut, hal tersebut terjadi didorong oleh optimism Indonesia menjelang Pemilu Presiden 2014 dan naiknya upah minimum karyawan. Karena kuatnya kondisi domestik ini kemampuan daya beli masyarakat Indonesia meningkat.
Menurut Indira Abidim, Managing Director PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR) setelah Indonesia, India menempel di posisi kedua dengan indeks kepuasan konsumen sebesar 120 poin. Diikuti Philipina 118 poin, Thailand 116 poinj, dab Brazil 111 poin. Lima negara lain yang masuk sepuluh besar adalah Arab Saudi, Tiongkok, dan Hongkong dengan 108 poin, lalu Malaysia dan Norwegia 106 poin.
Benang merah yang bisa kita tarik dari fenomena sosial diatas adalah kondisi kehidupan kita sebagai bangsa telah mencapai kemajuan yang sangat signifikan dalam hal berdemokrasi. Sebuah negara, apakah sistemnya demokrasi atau tidak, bisa dianalisis dan dicermati dari sistem dan kehidupan  media massa-nya. Ketika media massa, baik nasional maupun lokal dengan nyaman berani mengungkap sisi-sisi negatif sebuah pemerintah, hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah negara telah hidup dalam sistem yang demokratis.
Realitas sosial tersebut harus kita apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintahan SBY, dengan segala kekurangan dan kelemahan yang ada. SBY sebagai presiden Indonesia keenam telah mampu membawa kehidupan bangsa kita pada era demokrasi yang bermartabat. Kebebasan politik, kebebasan berpendapat, keterbukaan informasi semakin terjamin, dan itu merupakan salah satu kunci sebuah negara akan sukses dan Berjaya.
Kehidupan kita sebagai bangsa yang demokratis bahkan dikagumi oleh dunia internasional. Dari mulai Presiden Obama, Perdana Menteri Perancis Francois Fillon, dan bahkan Presiden Myanmar U Thein Sein ingin mencontoh model demokrasi Indonesia di negaranya.
Maka tidak heran SBY sebagai Presiden banyak mendapat apresiasi dan gelar kehormatan, baik dari dunia akademis, budaya dan juga dari dunia internasional. Semisal gelar kehormatan Long Life Knight Grand Cross of the Order of Bath dari Kerajaan Inggris.
Tinggal kita sebagai rakyat dan bangsa Indonesia, mau dan mampu tidak, kita membangun kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang besar. Pilihan kembali kepada kita, mau bersikap seperti apa dan mengambil posisi dimana. Ini negara demokrasi. 




3. Pemerintahan Jokowi

Menurut penulis secara pribadi untuk menilai pemerintahan Jokowi saat ini sangatlah masihlah sangat dini karena apabila dilihat lagi permasalahan yang terdapat di negeri tercinta ini bisa dibilang merupakan permasalahan yang mengakar dari pemerintahan sebelumnya. Namun berdasarkan sumber yang penulis dapat Litbang Kompas melakukan jajak pendapat terhadap 1.199 responden yang berusia menimal 17 tahun dan tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin error 2,8%, jajak pendapat dilakukan periode 13-18 Januari 2015.
Terdapat 2 pertanyaan besar yang diajukan kepada responden, meliputi beberapa poin bahasan.
Pertama, kelebihan utama pemerintahan Jokowi-JK dinilai berdasarkan beberapa hal.
Sebanyak 33,6% responden menilai pemerintahan saat ini dekat dengan rakyat. Lalu, 14,9% mengakui program atau kebijakan tepat sasaran.
Selain itu, sebanyak 14,8% responden menilai Jokowi-JK bekerja cepat, bahkan 9,2% melihat pemerintah tegas dan berani mengambil keputusan. Meski demikian, sekitar 4,6% responden menilai bahwa pemerintahan Jokowi-JK tidak memiliki kelebihan utama selama 100 hari pertama.
Kedua, kekurangan utama dari pemerintahan saat ini, mencakup beberapa hal penting.
Mayoritas responden (22,3%) menilai bahwa pemerintahan Jokowi-Jk tidak bisa mengendalikan stabilitas harga barang. Lalu, 12,4% menilai bahwa Jokowi-JK belum melakukan perubahan signifikan. Dan, 9,5% responden melihat kedua pemimpin itu tidak konsisten.
Lebih jauh, sekitar 5,1% responden menilai pemerintahan saat ini kurang memiliki kemampuan. Bahkan sekitar 1,3% responden menilai pemerintahan saat ini terindikasi korupsi dan 1,3% menilai keduanya disetir partai politik.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Pembangunan Nasional Syahrial Loetan mengatakan, setiap pemimpin memang memiliki nilai plus dan minus. Namun yang terpenting, kata dia bagaimana upaya keras pemimpin itu untuk melakukan perubahan nyata.
Melihat hal tersebut tidak sepenuhnya pemerintahan Jokowi akan terus berjalan seperti sekarang ini dan pasti kita semua berharap agar kedepannya pemerntahan Jokowi dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik
 


5. Menjaga Ketahanan Nasional

Sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat serta mendapat pengakuan secara de facto dan de yure, Indonesia tidak boleh begitu saja mengabaikan sebuah konsep yang berkaitan dengan mempertahankan hal-hal yang sudah ada dan hal-hal yang telah diraih. Indonesia tidak boleh lengah dalam segala suasana yang terjadi, sekalipun itu membuatnya berada pada sebuah persimpangan menuju kesejahteraaan. Indonesia harus memperkuat nasionalismenya dari waktu ke waktu untuk mengantisipasi segala ideology dan usaha radikal yang ingin masuk dan bersarang di dalamnya.
Konsep Ketahanan Nasional
Ketahan Nasional secara baku berarti kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Di dalamnya terdapat sebuah keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik dari luar dan dari dalam negeri. Ketahanan nasional ini mutlak diperlukan bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam pemerintahan. Ketahanan nasional ini memiliki fungsi untuk menjamin identitas, integritas dan kelangsungan hidup negara serta menjaga eksistensi usaha untuk mencapai kepentingan nasional.
Pentingnya ketahanan nasional untuk menjaga keutuhan negara, menjadikan konsep ini wajib untuk diwujudkan dan terus dibangun sejak dini. Ketahanan nasional yang selanjutnya ada di tangan generasi penerus tidak bisa begitu saja dilepaskan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sebab, secara tidak langsung, perasaan kebangsaan yang melandasi kokohnya ketahanan nasional menuntut seseorang untuk jauh lebih mengutamakan kepentingan nasional. Proses berkelanjutan untuk mewujudkan kondisi tersebut dilakukan berdasarkan pemikiran geostrategic berupa konsep yang dirancang dan dirumuskan dengan memperhatikan kondisi bangsa dan konstelasi geografi Indonesia.
Konsepsi ketahanan nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh dan terpadu berlandaskan Pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya konsep ini merupakan suatu pedoman untuk terus meningkatkan kapabilitas Negara dalam mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Dengan memegang teguh konsep ini, bukan suatu hal yang tidak mungkin bagi Indonesia dalam mencapai kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya. Kesejahteraan dalam konsep ini digambarkan sebagai suatu kemampua bangsa dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat secara adil dan merata. Dan keamanan nasional memiliki arti sebagai kapabilitas yang dimiliki oleh bangsa untuk melindungi nilai-nilai nasionalnya terhadap ancama dari luar maupun dari dalam negeri (Alfandi, 2002).
Tidak jauh berbeda dengan pengertian yang dimilikinya, konsep Ketahanan Nasional dan ketahanan nasional itu sendiri juga memiliki hakikat yang teguh. Hakikat ketahanan nasional adalah keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional untuk dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara dalam mencapai tujuan nasional (Alfandi,2002). Sedangkan hakikat konsepsi ketahanan nasional adalah pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan nasional (Alfandi, 2002). Hakikat-hakikat ini sudah harus tertanam dalam kepribadian masyarakat Indonesia terkait dengan diakuinya mereka sebagai warga Negara yang berkewajiban untuk melakukan pengabdian terhadap Negara.
Asas-Asas Ketahanan Nasional
Penyelenggaraan ketahanan nasional jelas memiliki asas-asas. Asas ini diambil berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara. Setidaknya ada 4 asas yang terkandung dalam prinsip ketahanan nasional, yakni:
a.       Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Sejatinya, kesejahteraan dan keamanan merupakan dua hal berbeda yang saling melengkapi satu sama lain. Seseorang dapat dikatakan telah meraih kesejahteraannya bila ia merasa aman dari segala ancaman. Begitu pula sebaliknya. Dua hal ini harus berkembang dalam system kehidupan nasional demi menunjang kelangsungan hidup nasional. Kesejahteraan dan keamanan merupakan hal yang mutlak ada untu menjaga kestabilan pemerintahan secara vertical dan horizontal. Tingkat kesejahteraan dan keamanan merupakan tolok ukur ketahanan nasional.

a.       Asas Komprehensif integral atau menyeluruh terpadu
Konsep ketahanan nasional tidak hanya melingkupi satu aspek kehidupan saja. Konsep ini merangkul seluruh tatanan kehidupan seperti perwujudan persatuan, berbangsa dan bernegara. Dengan memelihara konsep ketahanan nasional, berarti turut mewujudkan cita-cita bangsa secara keseluruhan.
a.       Asas Mawas ke dalam dan ke luar
Konsep ketahan nasional berkaitan dengan penjagaan diri dari segala bentuk ancaman dari keadaan sekitar. Sistem kehidupan nasional adalah suatu system yang berinteraksi dengan keadaan di sekelilingnya. Interaksi ini jelas menimbulkan suatu dampak yang patut diwaspadai. Oleh karena itu, konsep ketahanan nasional harus ditumbuhkan. Asas mawas diri ke dalam dimaksudkan untuk memelihara hakikat, sifat dan kondisi berdasarkan nilai-nilai yang proporsional untuk meningkatkan kualitas kemandirian bangsa. Sedangkan asas mawas diri ke luar dimaksudkan untuk mengantisipasi, berperan serta mengatasi dampak lingkungan strategis lura negari dan menerima kenyataan adanya interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional. Ketahanan nasional ini diharapkan kelak mampu memberikan daya tangkal dan daya tawar sehingga kerjasama internasional bersifat menguntungkan bagi Negara.
a.       Asas Kekeluargaan
Asas ini mengandung nilai keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dna bernegara (Alfandi, 2002). Ketahanan nasional mengakui adanya perbedaan yang harus dikembangkan dalam keserasian dan keselarasan agar tidak menimbulkan potensi untuk menghancurkan.
Sifat-Sifat Ketahanan Nasional
Nilai-nilai yang terkandung dalam konsep ketahanan nasional menjadikan konsep ini memiliki sifat yang khas. Sifat-sifat tersebut adalah:
a.       Mandiri
Kemandirian merupakan syarat untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global. Dengan memelihara kemandirian, maka akan menunjang ketahanan nasional. Sebab, apabila suatu Negara bergantung pada Negara lain, maka Negara tersebut dapat dikatakan belum melaksanakan konsep ketahanan nasional. Sebab, ketergantungannya akan memancing adanya pihak lain yang turut campur dalam pemerintahan.
a.       Dinamis
Ketahanan nasional akan terus berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Sebab, orientasi masa depan bisa saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa. Oleh karena itu, perjuangan meraih kepentingan nasional juga akan berubah sehingga ketahanan nasional mau tidak mau mendapat imbas dari perubahan tersebut.
a.       Wibawa
Semakin tinggi konsep ketahanan nasional ini dipegang oleh sutu Negara, maka semakin tinggi pula kewibawaan Negara tersebut di mata internasional. Sehingga, kerjasama yang ingin dijalin akan berjalan dengan mudah dan kepentingan nasional dapat diraih dengan cepat.
a.       Konsultasi dan kerjasama
Konsep ketahanan nasional yang menghargai perbedaan untuk melebur dalam keselarasan tidak mengandalkan kekuasan atau kekuatan fisik serta konfrontatif dan antagonistis. Konsep ini justru mengutamakan konsultasi dan kerjasama serta sikap saling menghargai dengan mengandalkan kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
Aspek Dalam Ketahanan Nasional
Konsepsi ketahanan nasional menyangkut hubungan antara aspek yang mendukung kehidupan, yakni aspek yang berkaitan dengan alam yang bersifat statis dan bersifat dinamis. Setidaknya ada 5 aspek ketahan nasional yang mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Aspek yang pertama adalah ideology. Ideologi mengandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa. Dalam hal ini, ketahanan nasional juga berarti ketahanan untuk menjaga ideology bangsa Indonesia, yakni Pancasila. Perwujudannya memerlukan kondisi mental bangsa yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideology bangsa secara konsisten. Pelaksanaan ideology berarti juga turut mewujudkan ketahanan nasional.
Aspek yang kedua adalah aspek politik. Aspek ini mendapat sorotan dari konsep ketahanan nasional. Politik yang harus diatur oleh suatu Negara bukan saja politik dalam negeri, tetapi juga politik luar negeri. Pemerintah Negara berfungsi sebagai penentu kebijaksanaan yang ingin diwujudkan sebagai tuntutan dan aspirasi rakyat. Perwujudan konsep ketahanan politik memerlukan system politik yang sehat, dinamis dan mampu memelihara stabilitas politik, sebab kedinaminas ketahanan politik dapat menempatkan suatu Negara pada keadaan yang memerlukan perlakukan khusus.
Aspek ketiga adalah aspek ekonomi. Aspek ekonomi jelas berkaitan dengan ketahanan nasional. Beberapa pepatah mengatakan bahwa tingkat kesejahteraan dapat diukur dari tingkat ekonominya. Berangkat dari pepatah tersebut, konsep ketahanan nasional ekonomi menuntut adanya suatu pembangunan yang merata dan mengarahkan pada mantapnya pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya yang yang ada untuk kemaslahatan bersama. Dengan mewujudkan ketahanan ekonomi, berarti telah berusaha untuk meningkatkan daya saing dalam lingkup perekonomian global.
Aspek keempat adalah Sosial Budaya. Kondisi sosial budaya masyarakat seharusnya sudah berakar dalam suatu kehidupan. Wujud ketahananan social budaya dapat tercermin dalam kehidupan bangsa. Di Indonesia, konsep ketahanan social budaya dapat dipelihara melalui penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Aspek yang kelima adalah Pertahanan Keamanan. Keterkaitan aspek ini dengan ketahanan nasional adalah usaha penyusunan dan pengaturan seluruh potensi yang dimiliki bangsa Indonesia untuk menciptakan keamanan bangsa dan Negara secara terkoordinasi dan teintegrasi. Konsep ini mengacu pada kesiapsiagaan seluruh elemen rakyat semesta untuk menjamin penyelenggaraan system keamanan nasional dan menjamin kesinambungan serta kelangsungan hidup bangsa dan Negara. Bila setiap warga Negara memiliki semangat perjuangan bangsa, makan ketahanan pertahanan dan keamanan dapat mengeliminir pengaruh buruk yang muncul ke permukaan serta mampu menunjang proses pengambilan kebijakan yang kemudian disebut dengan Politik dan Srtrategi Nasional.



 

 
Sumber Tulisan :
Sindo Weekly No.9 Tahun II,2-8 Mei 2013, Demokrasi Indonesia Dicontoh Myanmar
VIVAnews, Kamis, 26 September 2013 | 22:14 WIB. PM Perancis : RI Selaraskan Islam dan Demokrasi.
http://srimuslimahirianti.blogspot.com/
The-masketeers.com/archives/Indonesia. Indonesia Makin Bersinar di Mata Dunia.
Kompas.com. Survei IRC : Rakyat Tak Puas dengan Kinerja SBY-Boediono.
Kompas.com. Survei INES : Kinerja Pemerintahan SBY Tak Memuaskan.
RMOL. CO. Survei FSI : Mayoritas Rakyat Kecewa Kinerja SBY-Boediono.
Merdeka.Com. 5 Capaian Kinerja SBY di Bidang Ekonomi.
Detiknews. Survei LSN : Publik Belum Puas Pada Kinerja Menteri SBY.
Liputan6.com. LSI : Kepuasan Masyarakat Pada SBY Turun.
Kriyantono, Rachmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Alfandi, Widoyo. 2002. Reformasi Indonesa, Bahasan dari sudut pandang Geografi Politik dan Geopolitik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sumarsono, S., Drs., MBA, at al., 2005. Pendidikan Kewarganegaraan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
http://vita_rudiany-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-48149-Pendidikan%20Kewarganegaraan-Ketahanan%20Nasional%20Indonesia.html