Minggu, 21 Mei 2017

BAB 1 PENDAHULUAN (Penelitian Taman Kota Margonda)



BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
            Taman (Garden) berasal dari bahasa ibrani, Gan yang berarti melindungi atau mempertahankan lahan yang ada dalam suatu lingkungan berpagar, dan Oden yang berarti kesenangan, kegembiraan, dan kenyamanan. Secara lengkap dapat diartikan bahwa taman adalah suatu lahan berpagar yang digunakan untuk mendapatkan kesenangan, kegembiraan, dan kenyaman (Laurie, 1986).
            Kota Depok memiliki banyak taman, tercatat terdapat 8 taman yang terdapat di kota ini. Salah satu taman yang keberadaannya kurang begitu diketahui oleh khalayak umum adalah taman kota margonda yang terletak di jalan raya margonda, Pondok Cina, Beji, Kota Depok. Taman kota margonda memiliki berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh warga Depok maupun pendatang sebagai tempat rekreasi. Ditaman kota margonda terdapat patung elang salak yang menandakan sebagai pemisah antara provinsi DKI Jakarta dengan provinsi Jawa Barat. Fasilitas-fasilitas yang terdapat pada taman kota margonda memerlukan perhatian oleh pemkot setempat, karena banyaknya fasilitas yang tidak terawat atau mengalami kerusakan, tanaman yang tidak terurus, dan permasalahan sampah dilingkungan taman.
            Permasalahan yang terdapat di Taman kota margonda selain memerlukan perhatioan oleh pemkot setempat  juga perlu menjadi perhatian bagi warga Kota Depok, agar tercipta suasana taman kota yang nyaman sebagai sarana rekreasi ditengah-tengah kota dan memenuhi fungsinya sebagai ruang terbuka hijau yang sesuai dengan peraturan pemerintah.

1.2       Perumusan Masalah
            Merujuk pada permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, beberapa permasalahan yang menjadi fokus utama adalah Fasilitas apa saja yang terdapat pada taman kota margonda, vegetasi tanaman apa saja yang terdapat di taman kota magonda dan bagaimanakah keadaan fasilitas-fasilitas serta vegetasi tanaman  yang terdapat pada taman kota margonda.

1.3       Pembatasan Masalah
            Pembatasan masalah adalah batasan-batasan yang dimaksudkan untuk membatasi topik permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok bahasan. Pembatasan masalah tersebut diantaranya:
1.          Penelitian hanya dilakukan di taman kota margonda yang beralamat di Jl. Margonda Raya, Pondok Cina, Beiji, Kota Depok, Jawa Barat.
2.                Penelitian dilakukan pada tanggal 4 Mei 2017

1.4       Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian adalah hal-hal apa saja yang ingin dicapai pada suatu penelitian. Tujuan penelitian taman kota margonda adalah sebagai berikut:
1.           Mengetahui kondisi dan fasilitas yang terdapat pada taman kota margonda.
2.           Mengetahui vegetasi tanaman yang terdapat di taman kota margonda dan kondisinya.
3.            Mengetahui fungsi taman kota margonda 
4.           Mengetahui langkah-langkah perbaikan yang diperlukan untuk taman kota margonda agar dapat memenuhi fungsinya sebagai taman kota yang nyaman.


1.5       Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan kerangka dalam penulisan ilmiah yang bertujuan untuk lebih mudah dipahami dan tersusun secara sistematis. Adapun sistematika penulisan dalam penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut:
BAB I        PENDAHULUAN
Bab pendahuluan menjelaskan mengenai latar belakang penyusunan ilmiah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian serta sistematika penulisan yang menggambarkan isi dari keseluruhan bab.
BAB II       PEMBAHASAN
Bab ini berisi mengenai uraian sejarah singkat taman kota margonda, fasilitas taman dan kondisinya, vegetasi tanaman yang terdapat di taman dan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilakukan
BAB III     KESIMPULAN                                           
Bab ini berisikan mengenai kesimpulan sebagai jawaban atas tujuan penelitian ini, serta saran yang ditunjukan pada pihak-pihak terkait sehubungan dengan hasil penelitian.

Senin, 08 Mei 2017

SEJARAH TAMAN KOTA MARGONDA





Sejarah dibangunnya taman kota margonda ini karena didalamnya terdapat “Tugu Elang Salak”. Ternyata Tugu Elang Salak itu dibangun jauh sebelum lahirnya Kota Depok.Tugu Elang Salak tersebut berupa seekor burung elang yang mencengkeram buah salak di atas sebuah bangunan segi empat setinggi kurang lebih 3 meter.Simbol yang diambil pada tugu tersebut pun jauh dari satwa khas dan buah khas dari Kota Depok. Depok memang tidak memiliki satwa khas maupun buah yang khas. Namun, Walikota Nur Mahmudi Ismail telah mencanangkan belimbing sebagai produk unggulan dan menjadi Lambang Kota meskipun bukan buah asli Depok dan menjadikannya Depok sebagai Kota Belimbing.
Depok yang pada saat dibangunnya Tugu Elang Salak tersebut hanyalah sebuah kecamatan di wilayah administrasi Kabupaten Bogor berbatasan dengan Propinsi DKI Jakarta. Maka dari itu perlu didirikan sebuah tugu sebagai tanda batas Propinsi Jawa Barat. Pada saat itu sedang dilakukan program konservasi satwa dan tumbuhan khas yang berada pada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan Gunung Halimun maka Pemerintah Propinsi Jawa Barat membangun sebuah tugu di Depok sebagai bagian dari Program Konservasi. Alasan mengapa burung elang dan buah salak yang dipilih untuk menjadi simbol sekaligus penanda batas propinsi adalah  karena burung elang dan buah salak adalah satwa dan buah khas yang konon hidup dan tumbuh di kawasan Gunung Gede, Gunung Salak dan Gunung Halimun. Burung elang yang dimaksud adalah Elang Ular (Colocalia Sp.), sedangkan Salak yang dimaksud adalah Salak khas dari Gunung Salak yaitu Salak Rambat (Salacca Sp.).
Burung elang ular saat ini tidak pernah lagi terlihat di langit Kota Depok, namun menurut banyak warga Depok, sampai dengan awal Reformasi tahun 1998, masih sering dijumpai burung langka tersebut berputar-putar di angkasa Depok. Burung elang ular berwarna hitam legam tanpa jambul. Sisi lain burung elang ular adalah penobatannya sebagai simbol kekuatan hitam karena warnanya yang hitam legam, sorot matanya yang tajam menakutkan, serta kehebatannya memangsa ular. Maka dari itu burung elang ular ini dijadikan simbol tugu.
Salak rambat ukurannya hanya sebesar buah kelengkeng sangat berbeda dengan Salak Pondoh yang ukurannya sebesar genggaman tangan anak balita. Arti kata “rambat” pada Salak Rambat tersebut  sebagai gambaran bahwa pohon salak jenis ini adalah merambat, tidak seperti Salak Pondoh yang pohohnnya seperti pohon nanas. Salak Rambat ini termasuk pohon langka dan masing bisa ditemui di lereng-lereng Gunung Salak dan Gunung Gede. Hanya saja populasinya sudah sangat jarang akibat perambahan dan alih fungsi hutan yang dilakukan oleh manusia, sehingga habitatnya makin terdesak ke tempat yang lebih tinggi.
Sejak adanya Tugu Elang Salak tersebut maka dibuatlah taman kota yang berada di ujung jalan margonda. Pada Taman Kota Margonda tersebut terdapat berbagai macam tanaman serta pepohonan yang membuat taman menjadi sejuk. Selain itu, taman juga dilengkapi dengan tempat sampah, tempat duduk dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Disusun Oleh:
1. Aditya Darfinna                (30414290)
2. Dimas Ichfianto                (33414102)
3. Syafira Noor Pradana        (3A414563) 
4. Winda Retno Anggraeny   (3C414266)
5. Yulinar Sari                       (3C414556)
DAFTAR PUSTAKA