Jumat, 30 Desember 2016

Review Jurnal Secondary Data




Judul                : “ERRORS AND ISSUES IN SECONDARY DATA USED IN   MARKETING RESEARCH”
Jurnal               : The Scientific Journal for Theory and Practice of Socioeconomic Development          
Vol. & Hal.     : Vol. 1, N° 2, pp. 326 – 335
Tahun              : 2012
Penulis             : MA Svetlana Tasić, London School of Commerce, Belgrade
                           MA Marija Bešlin Feruh, Alfa Univerzitet, Beograd
Reviewer         : Dimas Ichfianto (33414102)
Tanggal           : 31 Desember 2016


1. Abstraksi
Riset pemasaran menggunakan dua sumber data: primer dan sekunder. Ada banyak keuntungan dalam penggunaan data sekunder tetapi juga ada banyak keterbatasan seperti berbagai jenis kesalahan dan penyimpangan yang dapat timbul dalam data ini.Data sekunder harus akurat, handal, tepat, berisi, valid, dan tepat waktu. Empat potensi kesalahan yang dapat mengurangi akurasi data sekunder: sampling dan non-sampling error, kesalahan yang membatalkan data, kesalahan yang memerlukan reformulasi data dan kesalahan yang mengurangi keandalan. Semua sumber kesalahan dapat menurunkan reliabilitas dan validitas hasil. Ini berarti bahwa data sekunder harus diperlakukan dengan hati-hati.

2. Latar Belakang
   Konsep pemasaran yang baik  pada suatu perusahaan harus berorientasi pada kebutuhan konsumen, untuk memenuhi hal tersebut diperlukan adanya informasi tambahan mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen. Informasi tersebut dapat diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari konsumen sedangkan data sekunder merupakan data tambahan yang biasanya diperoleh dari catatan penjualan milik perusahaan yang nantinya akan dianalisa sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Data sekunder dapat menjadi alat bantu yang mampu memperkuat hasil penelitian namun dapat juga membuat hasil penelitian menjadi tidak valid karena data sekunder yang digunakan tidak mampu mencerminkan keadaan sesungguhnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kesalahan dan penyimpangan yang mungkin terjadi dalam melakukan penelitian pemasaran.

3. Tujuan Penelitian
    Tujuan penulisan merupakan hal-hal yang menjadi tujuan atau apa yang ingin diraih dalam melakukan suatu penulisan. Tujuan utama dari penilitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan dan penyimpanagan yang dapat terjadi dalam melakukan penelitian pemasaran yang mengandalkan data sekunder

4. Metode Penelitian
    Metode penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatid yaitu penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisa. Karena tidak terdapatnya data-data penelitian yang akan diolah untuk langkah selanjutnya

5. Hasil penelitian
Kesalahan pada data sekunder tidak memungkinkan untuk dihindari dikarenakan banyak hal. Baik itu dari proses penyusunan data tersebut maupun dari sifat data sekunder itu sendiri. Namun, analis pemasaran dapat melakukan tindakan untuk meminimalkan kesalahan ini yang akan menjadikan data sekunder menjadi cukup akurat, handal dan tepat. Kesalahan pengambilan sampel dapat ditangani dengan proses pengambilan sampel yang memadai melalui  evaluasi yang memungkinkan dan pengendalian kesalahan. Karena kesalahan non-sampling tidak bisa diukur sebelum survei dan karena itu agak sulit untuk mendeteksi mereka, alat terbaik untuk menangani jenis kesalahan ini adalah pencegahan yang didasarkan pada pemeriksaan yang akurat dari masalah dalam proses pengumpulan data utama. Analis juga harus memperhatikan sumber-sumber lain dari. Meskipun ada banyak berbagai sumber kesalahan dalam data sekunder, seperti yang disajikan dalam jurnal ini, masih banyak cara atau tindakan yang dilakukan untuk menghasilkan temuan yang lebih valid dari penelitian yang akan dijadikan dasar untuk proses pengambilan keputusan pemasaran.


6. Kekuatan Penelitian
1)      Secara keseluruhan jurnal tersebut sudah mampu mengantarkan tujuan yang ingin dicapai oleh penulis.
2)      Penulis Menggunakan 2 Bahasa yaitu bahasa negara asal penulis yaitu Serbia dan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris, sehingga dapat memudahkan pembaca yang bukan berasal dari negara Serbia

7. Kelemahan Penelitian
1)      Penelitian ini tidak disertakan dengan fakta-fakta yang ada di lapangan, yang sebetulnya apabila disertakan akan mampu menambah kekuatan hasil penelitian yang terdapat dalam jurnal ini.


               Jurnal dapat diunduh disini


 


Rabu, 26 Oktober 2016

PERKEMBANGAN TEKNIK INDUSTRI DI INDONESIA

 
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSt1qU8z7w-plGAAM5VS_KP6CmJWQe2ieSYI8wYPD83cRyq9NtA74oPK4Q87jMgGF_SkBqx7xO4miKVbFqrXuDlHg2525i62SYmYFl-MwI4ESokoU-ZCD4Y0CiiSiR-gFUjyA4uHxwqME/s1600/ie-wordle_0-470x260.png 
 
Bagaimana suatu negara dapat menjadi penguasa ekonomi....? Salah satu jawabannya adalah sektor industri yang maju. Dengan perindustrian yang maju maka dapat tercermin perkembangan teknologi dari suatu negara yang tentunya perkembangan teknologi berbanding lurus dengan perkembangan industri suatu negara. Indonesia merupakan negara yang berkembang dengan memanfaatkan berbagai sektor ekonomi salah satunya adalah sektor perindustrian, tentunya hal ini tidak lepas dari kelihaian para ahli-ahli industri kita yang berasal dari lulusan teknik industri, kali ini kita akan membahas perkembangan teknik industri di Indonesia.
Teknik Industri lahir pada akhir abad ke - 19. Teknik Industri adalah profesi dinamis yang perkembangannya didorong oleh tantangan dan tuntutan dari manufaktur, pemerintah dan layanan organisasi sepanjang abad kedua puluh. Teknik Industri juga merupakan profesi yang masa depannya tidak hanya bergantung pada kemampuan praktisi untuk bereaksi dan memfasilitasi operasional dan perubahan organisasi tapi lebih kepada kemampuan mereka untuk mengantisipasi dan memimpin perubahan itu sendiri.
Dalam berjalannya era industri lahirlah konsep-konsep dari para tokoh pemikir untuk lebih mengefektikan dan mengefisiensikan produktivitas pekerja. Konsep tentang spesialisasi pekerja yang disampaikan Adam Smith, “motion and time” dari charles Babbage, “Interchangeable manufacture” dari Eli Whitney, dan yang paling utama adalah konsep dari Frederick Winslow Taylor mengenai “scientific method” dan beberapa tokoh lainnya seperti Frank Gilbert dan Lillian Gilberth menuntut keahlian teknis yang terlatih yang dapat merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakkan/memimpin operasi-operasi dari sebuah sistem yang besar dan kompleks.
Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Universitas Sumatera Utara [USU] Medan pada tahun 1965 dan dilanjutkan dengan Teknik Industri ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesinmerupakan kelanjutan dari profesi pada zaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.
Di Universitas Indonesia, keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai. Sedangkan sarjana Teknik Mesin tidak mempelajari sistem pengoperasian tersebut secara keseluruhan. Sekitar tahun 1955, terdapat gagasan untuk menambah perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik.
Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.
Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.
Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.
     Pada tahun 1966 - 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB. Pada tahun 1968 - 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.
      Saat ini ada banyak sekali universitas di Indonesia yang menawarkan prodi Teknik Industri yang pastinya setiap universitas memiliki keunggulannya masing-masing, berikut adalah beberapa kampus yang menyediakan prodi teknik industri dapat dilihat pada link berikut:
http://www.ban-pt-universitas.co/2015/05/universitas-jurusan-teknik-industri-terbaik-di-industri-peringkat-a.html